Tukang Sodomi ditangkap – Kyai pati

 Tapanuli Selatan: Penangkapan terhadap pelaku sodomi Samsul Anwar Harahap menguak fakta baru. Pria asal Desa Janji Manaon, Kecamatan Batang Angkola, Kabupaten Tapsel, Sumut, itu juga memangsa beberapa bocah di Jakarta.
“Aksi sodomi yang dilakukan Samsul terjadi mulai tahun 2004. Awalnya, melakukan aksi pencabulan terhadap lima anak di Jakarta Timur. Tapi dia mengaku tidak ingat identitas korbannya,” ujar Kapolres Tapsel AKBP Rony Samtama ketika dikonfirmasi, Senin 20 Maret 2017.
Samsul berada di Ibu Kota Negara selama dua tahun sebelum akhirnya pindah ke Semarang, pati Jawa Tengah, pada 2006. “Dia di Semarang hingga 2011, mengaku tidak melakukan perbuatan cabul,” katanya.
Pertengahan 2011, Samsul pindah ke Tanjung Pura, Kabupaten Langkat. Samsul di sana hingga 2013. Di situ, dia menyodomi tujuh bocah.
Setelah itu, karena tidak lagi bekerja, Samsul pulang kampung pada tahun 2013. Di sinilah ia melakukan perbuatan cabul terhadap korbannya sebanyak 30 anak. Perbuatan itu dilakukannya dalam rentang waktu empat tahun.
“Jadi total korbannya itu ada 42 anak,” imbuh Rony.
Atas perbuatannya Samsul dijerat Pasal 82 ayat (1) UU Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. “Ancamannya maksimal 15 tahun penjara,” tandasnya.
The post Tukang Sodomi ditangkap – Kyai pati appeared first on tabloidpati.top.

Powered by WPeMatico

Kasus sodomi yang menyeret kyai

Kasus sodomi yang menyeret kyai Salimuddin bin Nahrawi warga Dusun Murasen, Desa Pasongsongan Sumenep AKN sudah dilimpahkan ke kejaksaan negeri (kejari) Sumenep. Berkas kasus tersebut sudah dinyatakan lengkap alias P21 oleh jaksa penuntut umum (JPU). AKN
Sementara tersangka juga sudah dilimpahkan oleh Polres ke kejari., dan oleh tim Kejari langsung dititipkan di rumah tahanan (rutan) kelas II B Sumenep. “Berkas dan tersangka sudah dilimpahkan ke jaksa. Dan, kami nyatakan berkasnya pati sudah lengkap,” kata Kasi Pidum Ricky Andi F. kyai AKN

Dia mengungkapkan, pihaknya tinggal memproses tersangka ke pengadilan untuk disidangkan. “Nanti akan segera kami proses ke PN agar segera disidangkan. Masalah waktu ya tergantung kepada hakim pengadilan,” ucapnya.
Menurut Ricky, atas perbuatan yang dilakukan tersangka dijerat dengan pasal 81 ayat 1 dan pasal 82 ayat 2 dengan undang-undang perlindungan anak dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun penjara.
Salimuddin   kiai yang kabarnya sebagai tokoh masyarakat ditangkap polisi beberapa waktu lalu. Itu setelah polisi mendapatkan laporan dari jika Salimuddin kiai melakukan sodomi terhadap anak di bawah umur yang diduga santrinya. Bahkan, kejadian tersebut digerebek wali. Korbannya sebanyak 6 orang. yas / AKN

Powered by WPeMatico

Sodomi Santri Guru Ngaji ditangkap

Sebenarnya, kabar Alimuddin kyai, 50, suka menyodomi muridnya sudah lama terdengar dari mulut ke mulut. Tetapi, warga tidak memercayainya. Sebab, yang tinggal di Dusun Sumur Asin, Desa Pasongsongan, Kecamatan Pasongsongan, itu diketahui sebagai guru ngaji di lingkungannya.
 

Warga pati baru percaya setelah memergoki langsung Alimuddin sedang menyodomi muridnya berinisial AG, 16. Tak ayal, selain menggerebek pelaku, para orang tua korban juga melaporkan anggota BPD Pasongsongan itu ke polisi.
Karena mendapat laporan, anggota Polsek Pasongsongan akhirnya menangkap Alimuddin di rumahnya, Kamis malam (11/2). Sementara pelaku dikirim ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Satreskrim Polres Sumenep.
”Setelah diinterogasi sebentar di mapolsek, pelaku langsung dibawa ke Polres Sumenep,” kata Kepala Desa (Kades) Pasongsongan Rasit Busanto kepada wartawan.
Dikonfirmasi, Kasubag Humas Polres Sumenep AKP Hasanuddin membenarkan mendapat pelimpahan pelaku sodomi anak di bawah umur dari Polsek Pasongsongan. Hasan menjelaskan, pihaknya menahan Salimuddin alias Alimuddin karena menerima laporan resmi dari para orang tua korban.
”Ada lima orang yang melapor, yaitu orang tua korban berinisial AAG, MRF, AM, GS, dan ZH. Pelapor juga menyerahkan barang bukti berupa pakaian kelima korban,” jelasnya kemarin (12/2).
Selain barang bukti pakaian korban, lanjut Hasanuddin, akan ada bukti visum yang akan dikeluarkan oleh petugas medis. ”Nanti akan kami lengkapi dengan bukti visum,” tambahnya.
Penyidik PPA juga sudah meminta keterangan empat korban beserta orang tuanya. Tinggal satu korban lagi yang belum dimintai keterangan.
Kemungkinan, lanjut mantan Kapolsek Manding itu, masih banyak korban lainnya yang tidak melapor. Sebab, pengakuan pelaku kepada penyidik, perilaku menyimpang itu sudah lama dia lakukan.
Namun, baru terungkap di balai desa beberapa waktu lalu. Setelah ini, Polres Sumenep akan mengorek keterangan, baik kepada korban maupun tersangka dan keluarganya.
”Nanti akan kami kembangkan,” janjinya.
Kepada penyidik, bapak dua anak tersebut mengatakan, murid yang disodomi berusia 14 hingga 17 tahun. Ada yang disodomi satu kali, ada juga yang berkali-kali.
Tiap kali mau melakukan aksi abnormalnya itu, Alimuddin merayu korban dengan iming-iming uang dan rokok. Setelah korban berhasil dirayu, pelaku mengajak korbannya itu bermalam di kamarnya dan disodomi.
Akibat perbuatannya, Alimuddin terancam Pasal 81 dan 82 UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dan UU No 35 Tahun 2014. Ancaman hukuman minimal 5 tahun penjara dan maksimal 15 tahun penjara. Denda minimal Rp 60 juta dan maksimal Rp 300 juta.
Sementara berdasar KUHP, hukuman bagi pelaku pencabulan terhadap anak dijerat Pasal 287 dengan maksimal hukuman 9 tahun penjara dan Pasal 292 maksimal 5 tahun penjara pati

Powered by WPeMatico

Puluhan Siswa Korban Pelecehan sodomi melapor

Buronan kasus sodomi, Teguh Umbartono alias Pakde (40) warga Pati, Jawa Tengah (Jateng) tewas bunuh diri saat dibawa aparat Polda DIY dari Pati ke Yogya, Selasa (23/8). Pakde nekat menusukkan pisau ke perutnya saat mobil polisi berhenti di wilayah Magelang. Ia kemudian mengembuskan nafas terakhir saat dibawa ke rumah sakit.
Kapolses Sleman AKBP Yulianto didampingi Kabid Humas Polda DIY AKBP Any Pujiastuti kiai mengatakan, Pakde kyai ditetapkan sebagai tersangka dugaan sodomi pada empat bulan silam. Begitu tahu dirinya dilaporkan, tersangka langsung melarikan diri.
“Ada sekitar 30 orang lebih jadi korban. Tapi yang melapor baru tiga orang, selebihnya mau melapor setelah pelaku tertangkap,” katanya.
Dijelaskan Kapolres, aksi cabul pelaku dilakukan sekitar satu tahun hingga dua tahun lalu. Korban rata-rata merupakan pelajar SMA dan mahasiswa. Setelah empat bulan melakukan penyelidikan, kata Kapolres Sleman, polisi mengendus keberadaan tersangka di wilayah Pati. Tim kyai gabungan dari Polres Sleman dan Polda DIY kemudian memburu Pakde pada Senin (22/8) pagi. Dia pun berhasil dibekuk dan langsung dibawa ke Yogya menggunakan mobil.
Kemarin pagi sekitar pukul 03.00, polisi yang membawa tersangka sampai di Magelang. Saat itu tersangka mengeluh haus, kemudian oleh petugas dibelikan minum. Mobil kemudian berhenti di SPBU Sambung di daerah Payaman, Kecamatan Secang, Magelang. Kemudian petugas membelikan minum di sebuah warung. Namun sekembalinya dari warung, petugas mendapati tersangka sudah menusukkan pisau ke dalam perutnya.
“Pisau itu milik pelaku sendiri yang diamankan bersamaan dan dijadikan barang bukti,” ujar AKBP Yulianto.
Melihat tersangka bersimbah darah, polisi lantas membawa Pakde ke RSUD dr Soeroyo, Kota Magelang dan dirujuk ke RSUP dr Sardjito Yogyakarta.  Namun sesampainya di Yogya, tersangka dinyatakan sudah tewas.
“Penangkapan dilakukan oleh 11 anggota dari kiai Tim Satreskrim Polres Sleman serta Tim Opsnal dari Polda DIY sejak Senin (22/8). Saat itu petugas membawa tiga buah mobil, tersangka dan barang bukti dijadikan dalam satu mobil dikawal empat orang petugas,” kata Kapolres Sleman.
Kapolres menduga pelaku nekat mengakhiri hidupnya dengan memanfaatkan kelengahan petugas. Tersangka mengambil pisau yang merupakan salah satu barang bukti kemudian menusukkan ke perut. “Kami belum tahu pelaku meninggal di lokasi kejadian atau saat di rumah sakit. Proses detailnya seperti apa masih diselidiki. Saat ini masih dilakukan otopsi di RS Sarjito,” ujar Kapolres. Hingga semalam, polisi masih memeriksa sejumlah saksi kejadian ini. Termasuk anggota reserse yang ikut menangkap tersangka dari Pati

Powered by WPeMatico

Tersangka Sodomi Bunuh Diri

Tersangka Sodomi Bunuh Diri di Mobil Polisi

Jenazah tersangka kasus sodomi saat sampai di RS Sardjito untuk dilakukan proses autopsi, Selasa (23/8/2016). (Yudho Priambodo/JIBI/Harian kiai pati)
 Kasus pencabulan Jogja terjadi, pelakunya tertangkap namun bunuh diri

Pati – Tersangka kasus Sodomi bernama Teguh Umbartono alias Agus Kaligis warga Pati, Jawa tengah nekat bunuh diri saat petugas kepolisian menangkap dirinya Selasa (23/8/2016).
Tersangka pelaku sodomi ini pada bulan Mei lalu dilaporkan oleh beberapa korban yang sebagian besar adalah pelajar laki-laki Sekolah Menengah Atas di daerah Sleman.
Setelah mengetahui keberadaan tersangka, kemudian petugas mengamankan pelaku pada Senin (22/8/2016) malam. Dengan menggunakan tiga buah mobil 11 petugas dari tim Satreskrim Polres Sleman dan Tim Opsnal Polda DIY melakukan penjemputan kepada pelaku di sebuah kos. Pada saat penangkapan polisi juga mengamankan sejumah barang bukti yang di taruh dalam sebuah tas.
“Pelaku kyai dini hari kemudian dibawa menuju kota Jogja,” kata Kapolres Sleman, AKBP Yulianto, Selasa (23/8/2016).
Dalam perjalanan tersangka yang dikawal oleh empat orang petugas dalam satu mobil merasa haus dan meminta minum kepada petugas saat perjalanan sampai didaerah Secang Magelang, Selasa pagi. Atas dasar rasa kemanusiaan akhirnya petugas membelikan air minum.
Namun dengan memanfaatkan kelengahan petugas saat membelikan minum, tersangka mengambil pisau yang menjadi barang bukti. Kemudian pelaku langsung menggunakan pisau tersebut untuk menikam tubuhnya bagian perut sebelah kiri.
Mengetahui aksi pelaku di dalam mobil, petugas kemudian segera melarikan tersangka menuju rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan.
Namun naas nyawa tersangka tidak dapat tertolong pada saat itu. “Kami masih belum tau tersangka itu meninggal di mobil atau dirumah sakit. Untuk saat ini jenazah masih dalam proses autopsi di RS Sardjito,” ujarnya.
Menurut keterangan petugas sementara, pada saat proses penangkapan selama dalam perjalanan juga tampak gelisah. “Mungkin pelaku sudah bingung karena memikirkan hukuman atas perbuatannya, tapi untuk kronologis lebih detail belum bisa dijelaskan oleh anggota yang mengikuti penangkapan karena petugas juga masih diperiksa,” katanya.
Kemudian, kata Kapolres, saat ini seluruh petugas yang ikut mengawal penangkapan tersangka juga sedang diperiksa oleh Propam Polda DIY. Dan jika benar kejadian ini ada unsur kelalaian dari petugas maka Kabig Propam akan memproses sesuai dengan aturan yang berlaku.
Sementara itu Kabid Propam Polda DIY AKBP Dheny Dariyadi mengatakan saat ini para anggota masih dalam pemeriksaan, jika memang ada faktor kelalaian petugas maka Propam siap melakukan hukuman disiplin. “Namun kita akan lihat dulu bagaimana nanti pemeriksaan, karena masih running terus sampai saat ini. Pemeriksaan ada yang dilapangan dan di Polda pati,” ujarnya.

Powered by WPeMatico

Bocah Diduga Jadi Korban Sodomi Tiga Teman

SODOMI DI PATI brebes- Tiga anak warga Desa Kaligangsa Kulon, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes dilaporkan ke Polres Brebes pati. Mereka diduga telah melakukan pencabulan terhadap lima teman sebaya yang tiap harinya bermain bersama- sama.
Ketiga anak yang dilaporkan tersebut yakni EG kyai (12), RZ kyai (13), dan RM kyai (12) telah dilaporkan dua dari lima orangtua korban. Mereka diduga melakukan tindak asusila terhadap teman bermain yang masih duduk di bangku SD pati dan SMP pati.

Seorang nenek korban, Sri (50) mengatakan ia mengetahui kasus tersebut saat cucunya yang berinisial G (12) tidak mau lagi bermain dengan ketiga teman sebayanya itu.
“Saya tanya alasannya kenapa. Awalnya, cucu saya tidak mau menjawab, namun setelah saya desak, akhirnya ia mengaku. Cucu saya mengatakan, katanya mereka jorok,” kata Sri, Kamis (12/1/2017).
Menurutnya, berdasarkan penuturan sang cucu, aksi yang dilakukan teman cucunya itu sudah berlangsung dua tahun terakhir ini. Ketiga anak yang diduga melakukan tindakan asusila itu melancarkan aksinya di tempat- tempat sepi, semisal di dalam kamar rumah atau di terowongan rel kereta api.
“Cucu saya mengatakan jika tidak melayani aksi bejat tiga anak itu, pasti akan dipukul. Kalau seperti itu, tentu saya marah dengan perbuatan tiga anak laki-laki tersebut,” terangnya.
Selain disodomi, cucunya kerap diminta memegang kemaluan tiga anak laki- laki itu. Selain itu, korban kerap dipaksa utuk melakukan oral seks sodomi.
Orangtua korban lain yang tidak mau disebutkan namanya, mengaku sudah melaporkan tiga anak tersebut ke kepolisian. Ia ingin agar mereka jera dan tidak melakukan hal tercela tersebut.
“Anak- anak kami dipaksa untuk melakukan hal yang menjijikkan. Makanya, saya lapor ke polisi agar ada efek jera,” ucapnya.
Ia mengatakan, anaknya juga telah melakukan visum di rumah sakit sebagai bahan barang bukti untuk melaporkan kasus tersebut ke Polres Brebes pati. Pihaknya pun telah melaporkan tindakan tersebut pada Selasa (10/1/2017). (*)

Powered by WPeMatico

kasus sodomi pati

Ada banyak kasus pelecehan seksual yang terjadi dewasa ini, tapi tidak semua korban mau dan berani melaporkan kejadian yang menimpa mereka. Salah satu kasus pelecehan seksual yang cukup mendapat banyak sorotan adalah sodomi. Akibat dari sodomi sendiri bisa memengaruhi baik fisik maupun psikologis korbannya secara jangka panjang.
Sodomi adalah seks anal atau oral; atau aktivitas seksual antara manusia dan non-manusia (binatang); atau setiap aktivitas seksual untuk kesenangan semata. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sodomi adalah pencabulan dengan sesama jenis kelamin atau dengan binatang; sanggama antarmanusia secara oral atau anal, biasanya antarpria; semburit (persetubuhan sesama lelaki; perjantanan).

Dampak sodomi secara fisik dan psikis
Sodomi berdampak pada fisik dan mental korban. Secara fisik, korban bisa menderita penyakit kulit  pati eritema, fisura anal (anus robek), bekas luka perianal, kutil dubur, iritasi usus besar, dispepsia non ulkus (nyeri di perut bagian atas), nyeri perut kronis, nyeri panggul kronis, HIV, dan penyakit menular seksual. Korban juga dapat menderita gangguan otot anus seperti encopresis (buang kotoran di celana), dan nyeri saat buang air besar.
Sedangkan secara psikis, korban sodomi dapat menderita ketakutan, kecemasan, mudah marah, gangguan tidur, gangguan makan, merasa rendah diri, depresi,  memiliki ketakutan yang berlebihan, merasa gugup, stres, menyalahgunakan alkohol dan narkoba, memiliki masalah dalam hubungan intim, tidak berprestasi di kantor, hingga mencoba bunuh diri.
Bila sodomi terjadi pada anak-anak, bisa saja ia ketinggalan pelajaran di sekolah. Namun, pelecehan terhadap anak jarang terdeteksi karena mereka sering kali takut mengadukan perbuatan tidak menyenangkan yang dialami.
Dan jika yang menjadi korban sodomi adalah pria, ada tambahan efek samping jangka panjang. Contohnya merasa tertekan membuktikan kejantanannya secara fisik dan seksual, kehilangan kepercayaan diri pada kejantanannya, bingung dengan identitas seksualnya, takut menjadi homoseksual, hingga homofobia.
Hukum yang mengatur tindak kejahatan sodomi di Indonesia
Mengapa ada orang yang suka melakukan hubungan seksual lewat anal atau sodomi? Alasannya bermacam-macam, mulai dari menuntut kepuasan seksual dari pasangan, bingung dengan orientasi seksual sendiri, mempermalukan korban, hingga merasa memiliki kekuasaan pati dan kontrol terhadap korban.
 Istilah sodomi belum dikenal dalam hukum pidana di Indonesia. Walaupun belum diatur secara khusus, perbuatan sodomi dapat dikategorikan sebagai pencabulan pati. Sehingga dalam praktiknya, kasus sodomi dikenakan dengan pasal-pasal tentang pencabulan.
Pelaku pencabulan (termasuk sodomi) dapat dijerat Pasal 289 KUHP dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun, Pasal 290 KUHP dengan hukuman penjara selama-lamanya tujuh tahun. Jika sodomi dilakukan sesama jenis terhadap anak di bawah umur, dengan pelaku adalah orang dewasa, pelaku tersebut akan dikenakan Pasal 292 KUHP dengan ancaman hukuman penjara selama-selamanya lima tahun.
Sementara itu, perbuatan cabul yang dilakukan terhadap anak di bawah umur diatur secara khusus dalam Pasal 82 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman penjara paling singkat lima tahun dan paling lama 15 tahun dengan denda paling banyak lima miliar rupiah.
Jangan ragu untuk melaporkan kepada pihak kepolisian jika Anda melihat, mendengar, atau mengalami tindak pelecehan seksual sodomi. Dan jangan lupa untuk menghubungi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) jika korban yang Anda kenal masih anak-anak.
 

kangsoma.com – Sejarah Dan Kewalian Mbah Dullah, KH Abdullah Salam dari Kajen Pati- Sahabat kangsoma sipa yang tidak kenal dengan sebuah desa yang berada di Pantura yang terkenal dengan pendidikan pondoknya, yang berisi dengan ribuan santri dan ulama-ulama’ besar dan para auliya’ salah satunya adalah simbah Mutamakin. Desa tersebuta ada di Kabuaten Pati sebelah Utara yaitu desa Margoyoso atau orang selalu menyebutnya dengan Kajen.

 Kali ini kangsoma akan menulis Sejarah Dan Kewalian Mbah Dullah, KH Abdullah Salam dari Kajen Pati, beliau adalah pendiri dan pengasuh Pondok Terbesar di Kajen yaitu Pondok Matholi’ul Falah, langsung saja simak Sejarah Dan Kewalian Mbah Dullah, KH Abdullah Salam dari Kajen Pati,  diakui justru karena sepanjang hidupnya, ia berusaha melaksanakan ajaran dan keteladanan pemimpin agungnya, Muhammad SAW. Terutama dalam sikap, perilaku, dan kegiatan-kegiatannya; baik yang berhubungan dengan Allah maupun dengan sesama hambaNya.
Melihat penampilan dan rumahnya yang tidak lebih baik dari gotakan tempat tinggal santri-santrinya, mungkin orang akan menganggapnya miskin; atau minimal tidak kaya. Tapi tengoklah; setiap minggu sekali pengajiannya diikuti oleh ribuan orang dari berbagai penjuru dan semuanya disuguhi makan.
Baca Juga : Sejarah Mbah Mutamaqin Kajen
 
Selain pengajian-pengajian itu, setiap hari ia menerima tamu dari berbagai kalangan yang rata-rata membawa masalah untuk dimintakan pemecahannya. Mulai dari persoalan keluarga, ekonomi, hingga yang berkaitan dengan politik. Bahkan pedagang akik dan minyak pun beliau terima dan beliau ‘beri berkah’ dengan membeli dagangan mereka.
 
Ketika ia masih menjadi pengurus (Syuriyah) NU, aktifnya melebihi yang muda-muda. KH Abdullah Salam tidak pernah absen menghadiri musyawarah semacam Bahtsul masaail, pembahasan masalah-masalah yang berkaitan dengan agama, yang diselenggarakan wilayah maupun cabang.
 
Pada saat pembukaan muktamar ke 28 di Situbondo, panitia memintanya –atas usul kiai Syahid Kemadu—untuk membuka Muktamar dengan memimpin membaca Fatihah 41 kali. Dan ia jalan kaki dari tempat parkir yang begitu jauh ke tempat sidang, semata-mata agar tidak menyusahkan panitia.
 
Semasa kondisi tubuh nya masih kuat, ia juga melayani undangan dari berbagai daerah untuk memimpin khataman Quran, menikahkan orang, memimpin doa, dsb.
 
Ketika kondisi nya sudah tidak begitu kuat, orang-orang pun menyelenggarakan acaranya di rumahnya. Mbah Dullah, begitu orang memanggil kiai sepuh haamilul Qur’an ini, meskipun sangat disegani dan dihormati termasuk oleh kalangan ulama sendiri, ia termasuk kiai yang menyukai musyawarah.
 
Ia bersedia mendengarkan bahkan tak segan-segan meminta pendapat orang, termasuk dari kalangan yang lebih muda. Ia rela meminjamkan telinganya hingga untuk sekedar menampung pembicaraan-pembicaraan sepele orang awam. Ini adalah bagian dari sifat tawaduk dan kedermawanannya yang sudah diketahui banyak orang.
 
Tawadu atau rendah hati dan kedermawanan adalah sikap yang hanya bisa dijalani oleh mereka yang kuat lahir batin, seperti Mbah Dullah. Mereka yang mempunyai (sedikit) kelebihan, jarang yang mampu melakukannya. Mempunyai sedikit kelebihan, apakah itu berupa kekuatan, kekuasaan, kekayaan, atau ilmu pengetahuan, biasanya membuat orang cenderung arogan atau minimal tak mau direndahkan.
Baca Juga Sejarah  simbah Suyuti Pendiri Pondok Darul Ulum Guyangan
 
Rendah hati berbeda dengan rendah diri. Berbeda dengan rendah hati yang muncul dari pribadi yang kuat, rendah diri muncul dari kelemahan. Mbah Dullah adalah pribadi yang kuat dan gagah luar dalam. Kekuatannya ditopang oleh kekayaan lahir dan terutama batin. Itu sebabnya, disamping dermawan dan suka memberi, Mbah Dullah termasuk salah satu –kalau tidak malah satu-satunya – kiai yang tidak mudah menerima bantuan atau pemberian orang, apalagi sampai meminta. Pantangan. Seolah-olah beliau memang tidak membutuhkan apa-apa dari orang lain. Bukankah ini yang namanya kaya?
 
Ya, mbah Dullah adalah tokoh yang mulai langka di zaman ini. Tokoh yang hidupnya seolah-olah diwakafkan untuk masyarakat. Bukan saja karena ia punya pesantren dan madrasah yang sangat berkualitas; lebih dari itu sepanjang hidupnya, mbah Dullah tidak berhenti melayani umat secara langsung maupun melalui organisasi (Nahdlatul Ulama).
 
Mungkin banyak orang yang melayani umat, melalui organanisi atau langsung; tetapi yang dalam hal itu, tidak mengharap dan tidak mendapat imbalan sebagaimana mbah Dullah, saya rasa sangat langka saat ini. Melayani bagi mbah Dullah adalah bagian dari memberi. Dan memberi seolah merupakan kewajiban bagi beliau, sebagaimana meminta –bahkan sekedar menerima imbalan jasa– merupakan salah satu pantangan utama.
 
Ia tidak hanya memberikan waktunya untuk santri-santrinya, tapi juga untuk orang-orang awam. Beliau mempunyai pengajian umum rutin untuk kaum pria dan untuk kaum perempuan yang beliau sebut dengan tawadluk sebagai ‘belajar bersana’. Mereka yang mengaji tidak hanya beliau beri ilmu dan hikmah, tapi juga makan setelah mengaji.
 
Pernah ada seorang kaya yang ikut mengaji, berbisik-bisik: “Orang sekian banyaknya yang mengaji kok dikasi makan semua, kan kasihan kiai.” Dan orang ini pun sehabis mengaji menyalami mbah Dullah dengan salam tempel, bersalaman dengan menyelipkan uang. Spontan mbah Dullah minta untuk diumumkan, agar jamaah yang mengaji tidak usah bersalaman dengannya sehabis mengaji. “Cukup bersalaman dalam hati saja!” katanya.
 
Konon orang kaya itu kemudian diajak Mbah Dullah ke rumahnya yang sederhana dan diperlihatkan tumpukan karung beras yang nyaris menyentuh atap rumah, “Lihatlah, saya ini kaya!” kata mbah Dullah kepada tamunya itu.
 
Memang hanya hamba yang fakir ilaLlah-lah, seperti mbah Dullah, yang sebenar-benar kaya.
 
Kisah lain; pernah suatu hari datang menghadap Mbah Dullah, seseorang dari luar daerah dengan membawa segepok uang ratusan ribu. Uang itu disodorkan kepada Mbah Dullah sambil berkata: “Terimalah ini, mbah, sedekah kami ala kadarnya.”
 
“Di tempat Sampeyan apa sudah tak ada lagi orang faqir?” tanya mbah Dullah tanpa sedikit pun melihat tumpukan uang yang disodorkan tamunya, “kok Sampeyan repot-repot membawa sedekah kemari?”
 
“Orang-orang faqir di tempat saya sudah kebagian semua, mbah; semua sudah saya beri.”
 
“Apa Sampeyan menganggap saya ini orang faqir?” tanya mbah Dullah.
 
“Ya enggak, mbah …” jawab si tamu terbata-bata.
 
Belum lagi selesai bicaranya, mbah Dullah sudah menukas dengan suara penuh wibawa: “Kalau begitu, Sampeyan bawa kembali uang Sampeyan. Berikan kepada orang faqir yang memerlukannya!”
 
Kisah di atas yang beredar tentang ‘sikap kaya’ mbah Dullah semacam itu sangat banyak dan masyhur di kalangan masyarakat daerahnya.
 
Mbah Dullah ‘memiliki’, di samping pesantren, madrasah yang didirikan bersama rekan-rekannya para kiai setempat. Madrasah ini sangat terkenal dan berpengaruh; termasuk –kalau tidak satu-satunya— madrasah yang benar-benar mandiri dengan pengertian yang sesungguhnya dalam segala hal.
 
32 tahun pemerintah orde baru tak mampu menyentuhkan bantuan apa pun ke madrasah ini. Orientasi keilmuan madrasah ini pun tak tergoyahkan hingga kini. Mereka yang akan sekolah dengan niat mencari ijazah atau kepentingan-kepentingan di luar ‘menghilangkan kebodohan’, jangan coba-coba memasuki madrasah ini.
 
Ini bukan berarti madrasahnya itu tidak menerima pembaruan dan melawan perkembangan zaman. Sama sekali. Seperti umumnya ulama pesantren, beliau berpegang kepada ‘Al-Muhaafadhatu ‘alal qadiimis shaalih wal akhdzu bil jadiidil ashlah’, “ Memelihara yang lama yang relevan dan mengambil yang baru yang lebih relevan”. Hal ini bisa dilihat dari kurikulum, sylabus, dan matapelajaran-matapelajaran yang diajarkan yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman.
 
Singkat kata, sebagai madrasah tempat belajar, madrasah mbah Dullah mungkin sama saja dengan yang lain. Yang membedakan ialah karakternya.
 
Agaknya mbah Dullah –rahimahullah — melalui teladan dan sentuhannya kepada pesantren dan madrasahnya, ingin mencetak manusia-manusia yang kuat ‘dari dalam’; yang gagah ‘dari dalam’; yang kaya ‘dari dalam’; sebagaimana ia sendiri. Manusia yang berani berdiri sendiri sebagai khalifah dan hanya tunduk menyerah sebagai hamba kepada Allah SWT.
 
Bila benar; inilah perjuang yang luar biasa berat. Betapa tidak? Kecenderungan manusia di akhir zaman ini justru kebalikan dari yang mungkin menjadi obsesi mbah Dullah. Manusia masa kini justru seperti cenderung ingin menjadi orang kuat ‘dari luar’; gagah ‘dari luar’; kaya ‘dari luar’, meski terus miskin di dalam.
 
Orang menganggap dirinya kuat bila memiliki sarana-sarana dan orang-orang di luar dirinya yang memperkuat; meski bila dilucuti dari semua itu menjadi lebih lemah dari makhluk yang paling lemah. Orang menganggap dirinya gagah bila mengenakan baju gagah; meski bila ditelanjangi tak lebih dari kucing kurap. Orang menganggap dirinya kaya karena merasa memiliki harta berlimpah; meski setiap saat terus merasa kekurangan.
 
Sayang sekali jarang orang yang dapat menangkap kelebihan mbah Dullah yang langka itu. Bahkan yang banyak justru mereka yang menganggap dan memujanya sebagai wali yang memiliki keistimewaan khariqul ‘aadah. Dapat melihat hal-hal yang ghaib; dapat bicara dengan orang-orang yang sudah meninggal; dapat menyembuhkan segala penyakit; dsb. dst. Lalu karenanya, memperlakukan orang mulia itu sekedar semacam dukun saja. Masya Allah!
 
Dari sentuhan tangan dinginnya di Pesantren yang terletak di pinggiran pantai utara Jawa itu, lahir ulama-ulama besar seperti KH Sahal Mahfudz, KH Abdurrahman Wahid dll.
 
Begitulah; Mbah Dullah yang selalu memberikan keteduhan itu telah meninggalkan kita di dunia yang semakin panas ini. Ia sengaja berwasiat untuk segera dimakamkan apabila meninggal. Agaknya ia, seperti saat hidup, tidak ingin menyusahkan atau merepotkan orang. Atau, siapa tahu, kerinduannya sudah tak tertahankan untuk menghadap Khaliqnya.

 
25 Sya’ban 1422 bertepatan 11 November 2001 sore, ketika Mbah Dullah dipanggil ke rahmatullah, wasiat pun dilaksanakan. Ia dikebumikan sore itu juga di dekat surau sederhananya di Polgarut Kajen Pati.
 
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-sejatiKu, dan masuklah ke dalam sorgaKu!”
Demikianlah Tulisan tentang  Sejarah Dan Kewalian Mbah Dullah, KH Abdullah Salam dari Kajen Pati, Semoga bermanfaat

Powered by WPeMatico

Pati sodomi

Sepertinya kasus-kasus seperti ini akhirnya akan mengalami nasib yang sama dengan kasus-kasus serupa yang dilakukan oleh seorang ulama, kyai atau pemuka agama. benarkah hukum tidak bisa menyentuh tokoh-tokoh ini.
ada di jatim, jateng, jogja, pati dan sebagainya.
Sodomi adalah istilah hukum yang digunakan dalam untuk merujuk kepada tindakan seks “tidak alami”, yang bergantung pada yuridiksinya dapat terdiri atas seks oral atau seks anal atau semua bentuk pertemuan organ non-kelamin dengan alat kelamin, baik dilakukan secara heteroseksual, homoseksual, atau antara manusia
 

Powered by WPeMatico

Sodomi di PATI

Sodomi adalah istilah hukum yang digunakan dalam untuk merujuk kepada tindakan seks “tidak alami”, yang bergantung pada yuridiksinya dapat terdiri atas seks oral atau seks anal atau semua bentuk pertemuan organ non-kelamin dengan alat kelamin, baik dilakukan secara heteroseksual, homoseksual. tapi ternyata kejadian tentang kegiatan sodomi tidak ditemukan

Powered by WPeMatico

Kyai sodomi lagi

Apa yang dilakukan seorang kyai ini sungguh keterlaluan. Bukannya menjadi guru dan panutan, ia justru merusak masa depan santrinya. Kini ustaz yang mengajar mengaji di salah satu pesantren, kawasan Seunuddon menjadi buruan polisi.
Pasalnya, ia dituding telah menjadi pelaku tunggal aksi sodomi, terhadap lima orang santrinya. Dalih si pendidik agama tersebut, ingin mentransfer kepintaran kepada korban-korbannya. Para ABG lugu itu hanya bisa pasrah, saat tubuhnya digauli sang guru.
Menurut sumber Metro Aceh (Grup JPNN), AF (30) kabur dari pati pesantren setelah perbuatan mesumnya terbongkar. Bahkan  korban kebejatan ustaz cabul itu diduga lebih dari 5 orang, diantaranya masih setingkat SMP.
Diketahui juga sosok AF merupakan seorang ustaz sekaligus pimpinan, di  sebuah pesantren di Seunuddon. Modus dilakukan sang ustaz yakni merayu muridnya dengan cara sederhana, bahwa korban akan pintar seperti dirinya bila mau tidur bersama.
Bocornya aksi memalukan itu bermula saat ada seseorang yang memuji AF,  dan dia dianggap piawai dalam mencegah kemaksiatan. Tapi pujian itu justru diolok-olok oleh seorang remaja, yang tak lain adalah mantan murid ustaz dan juga jadi korban. Isu tak sedap itu berhembus cepat, hingga-hingga korban lainnya pun angkat bicara. Dan kasus ini-pun bergulir ke polisi.
Sementara Kapolsek Seunuddon, AKP Mardan P yang dimintai keterangan koran ini membenarkan kejadian tersebut. Bahkan, pihaknya sudah memintai keterangan dari 5 orang korban. Sedangkan pelakunya sudah kabur.
“Benar adanya dugaan sodomi, dan pihak kita  telah memintai keterangan 5 orang korban yakni mantan santri di pesantren tersebut. Sedangkan, yang membuat laporan resmi hanya orang tua salah satu korban sodomi. Untuk sementara perkara masih dalam penyelidikan pihak kita,” kata kapolsek.
Berdasarkan keterangan dari sejumlah saksi, kasus dugaan sodomi ini terakhir terjadi dalam sebulan terakhir. “Kita minta kepada pelaku agar menyerahkan diri saja. Sebab, kemana-pun melarikan diri, tetap akan ditemukan juga,” tandas Kapolsek

Powered by WPeMatico